Pages

I'm pregnant!

FD

Awal taun 2016 gue udah mulai merasakan beberapa kali eneg, tapi gak sering, dan bukan pagi2 jadi saya pikir palingan karena telat makan atau apa .... dan belum telat datang bulan juga...

Tapi dua minggu berlalu, kok eneg-nya mulai sering ya, bagian tubuh saya juga seperti ciri-ciri mau datang bulanan, tapi tidak seperti biasanya.. Indra penciuman yang sensitif membuat kecurigaan kalau saya hamil semakin bertambah...jadinya saya langsung memutuskan untuk sesegera mungkin melakukan testpack.

Pagi subuh waktu itu, dengan semangat saya bangun. Deg-degan saat menunggu 2 atau 1 garis. Pertama-tama muncul 1 garis tegas, semenit kemudian muncul garis ke dua tapi memang agak samar.



What?? Positif?!! Perasaan saya langsung campur aduk... seneng, gak percaya, tapi juga ada rasa takut.. :(
Gak percaya, kok secepat ini saya sudah hamil, karena saya baru saja pemberesan dengan Tuhan soal menunda hamil atau gak.

Untuk lebih memastikan hasil testpack, kita memutuskan untuk segera ke dokter, karena ada ciri-ciri yang bikin saya takut, lagipula ini kehamilan pertama dimana kita berdua buta banget. Browsinglah kita mencari-cari mau memeriksa dimana dan dengan dokter siapa.

Ya ampun, saya ke dokter kandungan, berasa gak percaya...hehehe..
Setelah konsultasi, langsung di USG dan dokter membenarkan kalau saya hamil karena dari USG terlihat penebalan rahim. Dokter bilang masih muda banget hamilnya, palingan baru 2-3 minggu, jadi disuruh kembali 2 minggu lagi.

Dokter juga menyajikan pantangan dan larangan untuk ibu hamil, yang bikin saya sedikit 'lemes' karena sebagian makanan favorit saya, seperti : Teh, coklat dibatasi. Makanan mentah tidak boleh, yang berarti sayur salad atau acar kesukaan saya tidak boleh dimakan.
Dan pantangan dari orang sekitar yang memang ada benarnya, makanan bermicin itu dihindari, karena melarutkan vitamin yang kita minum (baru tau jeleknya micin setelah hamil, hahaha). Berarti memang baiknya makan masakan sendiri, no i*d*mie..hahaha
'Sedikit' harga yang harus dibayar untuk yang terbaik bagi anak-ku. Kata dokter, ok lah, bayar harga cuma 9 bulan itu sebentar. Ok dok... hehehe.

I'm excited!


IY
Pagi-pagi dibangunin sama istri, masih setengah sadar gitu, dikasih tahu kalo dia hamil.. Kaget, campur aduk dan kaga nyangka kalau Tuhan kasih kepercayaan secepat itu. Tapi saat aku memutuskan untuk ada dalam komitmen pernikahan, maka aku sudah harus siap menghadapi segala sesuatu dampak, termasuk memiliki anak.

Mungkin menurut kebanyakan orang, beranggapan ya wajar lah hamil itu karena ada "sebab dan akibatnya".. Tapi aku sedikit mau menarik sudut pandang lain. Anak bukan lah semata karena hasil hubungan intim pria dan wanita, tapi juga ada dalam kedaulatan Tuhan yang sudah Ia rencakan. Kami menikah saja sudah dalam agenda Tuhan, begitu juga dengan rencana kehadiran anak kami.