Salah satu hal yang perlu kita pikirkan dan satu keputusan (sepakati) dalam persiapan pernikahan adalah, tentang rencana memiliki anak, mau langsung atau menunda.
F.D
Ini sih bagian lumayan galau buat saya, mungkin pasangan lain sudah menemukan kesepakatan ini sebelum menikah, tapi tidak dengan kami. Banyak pertimbangan, ditambah setiap orang yang memberikan pendapat tentang pilihan mereka, memiliki alasan kuat kenapa memilih langsung atau nunda.
Satu-satunya acara adalah bertanya ke Tuhan, kehendak Tuhan buat hidup saya apa ... sayangnya Tuhan gak langsung jawab.
I.Y
Saat aku mulai memutuskan untuk menikah merupakan suatu keputusan yang bulat aku terima, karena aku tau pada saat aku memutuskan untuk menikah berarti aku juga harus berani ambil 'konsekuensi'nya kalau aku dipercayakan anak. Aku yakin anak merupakan suatu kepercayaan dari Tuhan, walau bukan kepercayaan dengan tanggung jawab yang mudah untuk diambil.
Jauh sebelum aku dipertemukan dengan pasangan ku, saat aku masih mendoakan pasangan hidup. Aku diingatkan akan janjiNya yang mengapa sampai saat itu aku belum mendapatkan pasangan hidup, karena ada suatu waktu yang disiapkan agar keturunan ku dipakai untuk menjadi berkat buat generasi pada jamannya. Sehingga seakan menjawab pertanyaan ku dengan cara yang berbeda dan tak terpikirikan oleh ku sebelumnya, sehingga aku dapat realistis dan mempersiapkan diri dengan maksimal sampai pada waktunya tiba.
Aku yakin juga bahwa anak pertama atau anak sulung juga merupakan sesuatu yang murni, baru, dan menggambarkan ucapan syukur dan sukacita yang besar dan suatu wangi-wangian yang menyenangkan Tuhan.
Atas keyakinan ini aku memutuskan untuk mempercayakan kepada Tuhan, kalau dengan hubungan kami ini diberkati itu merupakan buah yang manis dan berkat atas hubungan keluarga kami. Jujur rasa khawatir itu ada, tapi khawatir itu tidak dapat guna apapun. Aku yakin Allah yang aku percayai sebagai Gembala yang baik akan senantiasa menuntun dan membimbing aku dari satu masa ke masa berikutnya.
Aku yakin kalau Tuhan sudah meneguhkan ku, maka aku yakin pasti hal yang sama akan disampaikan juga kepada istriku sebagai konfirmasi.
F.D
Berbeda dengan suami saya sudah punya iman duluan untuk gak nunda, tapi saya belum dapet imannya. Saya belum dapet jawaban apa-apa dari Tuhan. Ternyata karena Tuhan mau ber-urusan dulu sama hati saya sebelum menjawab.
Tuhan bukain ternyata alasan saya menunda itu dasarnya bukan karena kebaikan kita berdua, tapi karena kekhawatiran alias gak percaya pemeliharaan Tuhan. Saya merasa perlu menunggu, sampai kita berdua sudah memiliki tempat tinggal yang lebih dari sekarang, tunggu penghasilan kita sekian supaya di anak terfasilitasi dengan baik, bla bla bla..
Sampe akhirnya Tuhan ingetin saya satu hal, anak yang nanti dipercayakan itu bukan milik saya. Anak yang akan Tuhan percayakan nanti sudah ada dalam rencanaNya, anak saya milik Tuhan, jadi apapun yang dia butuhkan Tuhan yang cukupkan. Aduh, malu banget dibukain gitu sama Tuhan... Saat itu juga saya pemberesan sama Tuhan, minta ampun atas pemikiran saya yang tidak mempercayai pemeliharaanNya. Dan siap untuk tidak menunda punya anak
Post ini bukan bertujuan untuk mengencourage teman-teman jangan sampe nunda, bukan! Pelajaran dan pengalaman kita bersama Tuhan berbeda-beda. Kehendak Tuhan buat setiap kita juga berbeda-beda aplikasinya... Pembelajaran yang bisa saya bagikan ke teman-teman, jangan memutuskan sesuatu atas dasar kekhawatiran. Baik soal punya anak atau apapun itu, karena Tuhan gak suka anakNya khawatir, itu tanda gak percaya sama Dia.
Percayalah kepada TUHAN dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri. - Amsal 3:5
F.D
Ini sih bagian lumayan galau buat saya, mungkin pasangan lain sudah menemukan kesepakatan ini sebelum menikah, tapi tidak dengan kami. Banyak pertimbangan, ditambah setiap orang yang memberikan pendapat tentang pilihan mereka, memiliki alasan kuat kenapa memilih langsung atau nunda.
- Menunda karena nikmati lah masa berduan dulu, penyesuaian karakter karena klo udah punya anak itu beda banget, susah berduaan...bla bla bla. Masuk akal, apalagi kita berdua bangu hubungannya gak lama dan menjaga kekudusan.
- Jangan ditunda, nanti pas mau punya anak malah susah loh. Ya memang beberapa saya lihat memang begitu, tapi sepertinya itu bukan kebenarannya. Bisa juga karena 'jaga' nya gak alami, tapi pake cara yang bikin rahim kering (seperti obat KB). Tapi, Tuhan mau kasih masa ditolak. Bukan nolak juga, tapi harus bijak kan? hehehe
Satu-satunya acara adalah bertanya ke Tuhan, kehendak Tuhan buat hidup saya apa ... sayangnya Tuhan gak langsung jawab.
I.Y
Saat aku mulai memutuskan untuk menikah merupakan suatu keputusan yang bulat aku terima, karena aku tau pada saat aku memutuskan untuk menikah berarti aku juga harus berani ambil 'konsekuensi'nya kalau aku dipercayakan anak. Aku yakin anak merupakan suatu kepercayaan dari Tuhan, walau bukan kepercayaan dengan tanggung jawab yang mudah untuk diambil.
Jauh sebelum aku dipertemukan dengan pasangan ku, saat aku masih mendoakan pasangan hidup. Aku diingatkan akan janjiNya yang mengapa sampai saat itu aku belum mendapatkan pasangan hidup, karena ada suatu waktu yang disiapkan agar keturunan ku dipakai untuk menjadi berkat buat generasi pada jamannya. Sehingga seakan menjawab pertanyaan ku dengan cara yang berbeda dan tak terpikirikan oleh ku sebelumnya, sehingga aku dapat realistis dan mempersiapkan diri dengan maksimal sampai pada waktunya tiba.
Aku yakin juga bahwa anak pertama atau anak sulung juga merupakan sesuatu yang murni, baru, dan menggambarkan ucapan syukur dan sukacita yang besar dan suatu wangi-wangian yang menyenangkan Tuhan.
Atas keyakinan ini aku memutuskan untuk mempercayakan kepada Tuhan, kalau dengan hubungan kami ini diberkati itu merupakan buah yang manis dan berkat atas hubungan keluarga kami. Jujur rasa khawatir itu ada, tapi khawatir itu tidak dapat guna apapun. Aku yakin Allah yang aku percayai sebagai Gembala yang baik akan senantiasa menuntun dan membimbing aku dari satu masa ke masa berikutnya.
Aku yakin kalau Tuhan sudah meneguhkan ku, maka aku yakin pasti hal yang sama akan disampaikan juga kepada istriku sebagai konfirmasi.
F.D
Berbeda dengan suami saya sudah punya iman duluan untuk gak nunda, tapi saya belum dapet imannya. Saya belum dapet jawaban apa-apa dari Tuhan. Ternyata karena Tuhan mau ber-urusan dulu sama hati saya sebelum menjawab.
Tuhan bukain ternyata alasan saya menunda itu dasarnya bukan karena kebaikan kita berdua, tapi karena kekhawatiran alias gak percaya pemeliharaan Tuhan. Saya merasa perlu menunggu, sampai kita berdua sudah memiliki tempat tinggal yang lebih dari sekarang, tunggu penghasilan kita sekian supaya di anak terfasilitasi dengan baik, bla bla bla..
Sampe akhirnya Tuhan ingetin saya satu hal, anak yang nanti dipercayakan itu bukan milik saya. Anak yang akan Tuhan percayakan nanti sudah ada dalam rencanaNya, anak saya milik Tuhan, jadi apapun yang dia butuhkan Tuhan yang cukupkan. Aduh, malu banget dibukain gitu sama Tuhan... Saat itu juga saya pemberesan sama Tuhan, minta ampun atas pemikiran saya yang tidak mempercayai pemeliharaanNya. Dan siap untuk tidak menunda punya anak
Post ini bukan bertujuan untuk mengencourage teman-teman jangan sampe nunda, bukan! Pelajaran dan pengalaman kita bersama Tuhan berbeda-beda. Kehendak Tuhan buat setiap kita juga berbeda-beda aplikasinya... Pembelajaran yang bisa saya bagikan ke teman-teman, jangan memutuskan sesuatu atas dasar kekhawatiran. Baik soal punya anak atau apapun itu, karena Tuhan gak suka anakNya khawatir, itu tanda gak percaya sama Dia.
Percayalah kepada TUHAN dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri. - Amsal 3:5