FD
Hari dimana gembala berkata, ".. kalian sudah resmi menjadi suami istri"
Rasanya gak percaya kalau saya sudah menjadi istri orang, menikah... Perasaan baru kemarin doain pasangan hidup..hahaha
Menikah benar-benar hari baru buat kita berdua.
Buat saya banyak adjustment soal penyesuain waktu,
Dari yang biasa bangun tinggal saat teduh, mandi, ngantor.. ini harus bangun lebih awal supaya bisa bantu persiapan suami.
Dari yang biasa pulang kantor bisa banyak waktu santai baca buku, nge mall, hang out..ini harus pikirin pekerjaan rumah..pulang kantor mau nya cepet2 kelarin kerjaan rumah..
Dari yang biasanya nyapu ngepel cuma klo lagi ga da asisten rumah tangga, sekarang gue lakukan tiap hari.
Dari yang biasa tau nya cuma makan aja, sekarang mau gak mau harus bisa masak..
Dari yang biasa menenentukan sesuatu, menyusun jadwal mah gampang, ini kudu nunggu dulu dan disesuaikan dengan suami.
Dan masih banyak lagi
Tapi semuanya itu seru dan gue nikmati, karena semua hal itu membuat gue banyak belajar banget banget.
Gue sangat kagum dengan pernikahan yang Tuhan ciptakan.
Yang paling luar biasa, saya bisa berkata ... suami saya adalah orang yang akan paling mengenal saya dibanding orang lain dan bisa diajak curhat apapun, terbuka nya seperti saya terbuka dengan Tuhan. No wonder kenapa pernikahan disebut sebagai gambaran Kristus dan Jemaat.
IY
Saat pertama kali resmi menjadi suami istri merupakan suatu kesenangan dan penuh dengan ucapan syukur kalau hari itu akhirnya ada dan nyata didalam hidupku... hahahah
Ketika aku mulai kembali mengenang untuk kemudian menuliskan kedalam blog ini, rasa bangga karena mempunyai Tuhan yang janjiNya itu ya dan amin. Ia juga memberikan kesempatan untuk ku agar selalu memegang janji dan menantinya dengan iman percaya. Aku yakin tanpa kekuatan dari Tuhan untuk menjalaninnya mungkin saja aku tidak dapat bertahan.
Rasa syukur ini menambahkan semangat untuk ku untuk memulai hari-hari pernikahan ku layaknya seperti pada saat mulai memasuki kelas ditahun ajaran baru... ya, kelas ajaran baru karena aku senang sekali menamakan fase-fase dalam hidupku itu seperti kelas dengan tingkatan-tingkatan yang berbeda. Kalau aku bisa melewati tingkatan single ku dengan maksimal menurutku, aku yakin Tuhan akan mempukan aku untuk melawati tingkatan-tingkatan berikutnya.
Pembekalan-pembekalan yang telah kami dapatkan pada waktu bimbingan pranikah membantu kami ntuk memulai hari-hari pernikahan kami yang mempunyai perbedaan satu sama lain. Kami terus mencoba untuk mempraktekan bagaimana kami mencoba untuk menyelesaian konflik-konflik yang lebih hari-hari dan bagaimana mengkomunikasikan hal terkecil sekalipun dengan terbuka dan jujur, serta mencoba untuk membangun kesepakatan diantara kami termasuk didalamnya pengeluaran yang mulai tercatat dan tabungan yang terkontrol (",). Jujur ini semua bukan merupakan suatu perkara yang mudah, karena seringkali kesepakatan yang kami buatpun butuh penyesuaian sana sini hingga sekarang.
Kadang pemecahan masalah yang kami hadapi tidak dapat kami selesaikan hanya dengan berdasarkan teori, tapi butuh hati nurani yang sumbernya dari Tuhan sendiri saat kami mengambil keputusan. Karena akan susah sekali melakukan penyesuaian saat hati sedang panas dan jenuh. Namun aku percaya Tuhan akan selalu membimbing ku dan kehidupan rumah tangga kami, itu yang menjadi visi kami yang Tuhan percayakan untuk kami pegang.
Perjalanan kami masih sangat panjang, tapi kami yakin saat kami mengandalakan dan memegang Tuhan sebagai satu-satunya Gembala kami, maka disana ada kepastian yang sejati. Biar lewat sikap dan keputusan ku atas setiap permasalahan yang ku hadapi, menjadi satu irama yang mengiringi perjalanan kita layaknya menikmati perjalanan didalam gerbong kereta hendak berpergian ke suatu tempat.
Hari dimana gembala berkata, ".. kalian sudah resmi menjadi suami istri"
Rasanya gak percaya kalau saya sudah menjadi istri orang, menikah... Perasaan baru kemarin doain pasangan hidup..hahaha
Menikah benar-benar hari baru buat kita berdua.
Buat saya banyak adjustment soal penyesuain waktu,
Dari yang biasa bangun tinggal saat teduh, mandi, ngantor.. ini harus bangun lebih awal supaya bisa bantu persiapan suami.
Dari yang biasa pulang kantor bisa banyak waktu santai baca buku, nge mall, hang out..ini harus pikirin pekerjaan rumah..pulang kantor mau nya cepet2 kelarin kerjaan rumah..
Dari yang biasanya nyapu ngepel cuma klo lagi ga da asisten rumah tangga, sekarang gue lakukan tiap hari.
Dari yang biasa tau nya cuma makan aja, sekarang mau gak mau harus bisa masak..
Dari yang biasa menenentukan sesuatu, menyusun jadwal mah gampang, ini kudu nunggu dulu dan disesuaikan dengan suami.
Dan masih banyak lagi
Tapi semuanya itu seru dan gue nikmati, karena semua hal itu membuat gue banyak belajar banget banget.
Gue sangat kagum dengan pernikahan yang Tuhan ciptakan.
Yang paling luar biasa, saya bisa berkata ... suami saya adalah orang yang akan paling mengenal saya dibanding orang lain dan bisa diajak curhat apapun, terbuka nya seperti saya terbuka dengan Tuhan. No wonder kenapa pernikahan disebut sebagai gambaran Kristus dan Jemaat.
IY
Saat pertama kali resmi menjadi suami istri merupakan suatu kesenangan dan penuh dengan ucapan syukur kalau hari itu akhirnya ada dan nyata didalam hidupku... hahahah
Ketika aku mulai kembali mengenang untuk kemudian menuliskan kedalam blog ini, rasa bangga karena mempunyai Tuhan yang janjiNya itu ya dan amin. Ia juga memberikan kesempatan untuk ku agar selalu memegang janji dan menantinya dengan iman percaya. Aku yakin tanpa kekuatan dari Tuhan untuk menjalaninnya mungkin saja aku tidak dapat bertahan.
Rasa syukur ini menambahkan semangat untuk ku untuk memulai hari-hari pernikahan ku layaknya seperti pada saat mulai memasuki kelas ditahun ajaran baru... ya, kelas ajaran baru karena aku senang sekali menamakan fase-fase dalam hidupku itu seperti kelas dengan tingkatan-tingkatan yang berbeda. Kalau aku bisa melewati tingkatan single ku dengan maksimal menurutku, aku yakin Tuhan akan mempukan aku untuk melawati tingkatan-tingkatan berikutnya.
Pembekalan-pembekalan yang telah kami dapatkan pada waktu bimbingan pranikah membantu kami ntuk memulai hari-hari pernikahan kami yang mempunyai perbedaan satu sama lain. Kami terus mencoba untuk mempraktekan bagaimana kami mencoba untuk menyelesaian konflik-konflik yang lebih hari-hari dan bagaimana mengkomunikasikan hal terkecil sekalipun dengan terbuka dan jujur, serta mencoba untuk membangun kesepakatan diantara kami termasuk didalamnya pengeluaran yang mulai tercatat dan tabungan yang terkontrol (",). Jujur ini semua bukan merupakan suatu perkara yang mudah, karena seringkali kesepakatan yang kami buatpun butuh penyesuaian sana sini hingga sekarang.
Kadang pemecahan masalah yang kami hadapi tidak dapat kami selesaikan hanya dengan berdasarkan teori, tapi butuh hati nurani yang sumbernya dari Tuhan sendiri saat kami mengambil keputusan. Karena akan susah sekali melakukan penyesuaian saat hati sedang panas dan jenuh. Namun aku percaya Tuhan akan selalu membimbing ku dan kehidupan rumah tangga kami, itu yang menjadi visi kami yang Tuhan percayakan untuk kami pegang.
Perjalanan kami masih sangat panjang, tapi kami yakin saat kami mengandalakan dan memegang Tuhan sebagai satu-satunya Gembala kami, maka disana ada kepastian yang sejati. Biar lewat sikap dan keputusan ku atas setiap permasalahan yang ku hadapi, menjadi satu irama yang mengiringi perjalanan kita layaknya menikmati perjalanan didalam gerbong kereta hendak berpergian ke suatu tempat.